Nice Quote

Saya ketahui ketika saya hadir dalam acara Seminar dan Gathering Fisika Medis belum lama ini.

HMD The Explorer

merupakan proker Humas HMD Fisika 2011 yang diketuai oleh Fajar Haristyo dan dikomandoi oleh Ahmad Fauzi dan Ganis Sanhaji. Hai Kalian, ingatkah!

Golongan Darah A

My Blood Type

Siklotron RSK Dharmais

Alat yang berfungsi untuk menghasilkan Flourine-18. Diambil ketika saya Kerja Praktek (KP), yang ada post-testnya itu loh!!!!

Arsenal Jersey

Hanya sekadar foto kostum Arsenal Home LS 2012-2013

Ngumpul Internal

Jadi saya adalah member BEM FMIPA UI 2013 Biro Datan yang diketuai oleh Puri dan Biro Datan ini dibawahi oleh Yasir (Koordinator Internal). Pada momen ini kami melakukan Bukber, yang saya ingat sih waktu itu dibayarin.

Juara Liga Ukor Futsal

Ini diambil ketika menjuarai Liga Ukor Futsal dengan hanya kalah sekali dan dipartai terakhir mengalahkan chemistry 9-0. Hebat kan????. Oiya ini seharusnya ada Chevy dan Vakolz juga, tetapi dikarenkan mereka harus lomba apa gitu, jadi ga ikutan foto.

Saturday, July 21, 2012

Pemain terbaik EURO 2012 versi pribadi


Friday, January 27, 2012

Sekilas tentang Normalitas

Contoh Soal Normalitas

Di dalam 400 ml larutan 14,7 gram H2SO4 (Mr = 98). Hitunglah normalitas larutan tersebut!

Mol H2SO4 = 14,7 gr/98 = 0,15 mol

H2SO4   →   2 H+   +   SO42-
1 mol          2 mol

Setiap 1 mol H2SO4 setara dg 2 mol ekivalen
Maka 0,15 mol H2SO4 setara dg 0,3 mol ekivalen
Volume larutan = 400 ml = 0,4 liter
Jd,
N = 0,3 mol ekivalen/0,4 liter = 0,75 N

Friday, January 13, 2012

Menghafal unsur kimia golongan utama

Tuesday, December 27, 2011

Transpor Ion atau molekul melewati membran

Membran sel bersifat semipermiabel, beberapa molekul seperti air dapat lewat dengan mudah, sementara molekulnya lainya seperti gula dan garam sulit untuk lewat. Untuk melewati membran tentunya dibutuhkan energi. Pada Transpor aktif, digunakan ATP untuk melewati membran. Pada Transpor pasif, redoks potensial bertanggung jawab dalam perpindahan molekul atau ion.
Transpor molekul atau ion direpresentasikan lewat permeabilitas membran untuk melewatkan ion atau molekul tertentu. Membran sel, yang bertindak sebagai penghalang, memiliki permeabilitas yang cukup rendah sehingga dapat menjaga dari perpindahan ion-ion.
Jika ada perbedaan konsentrasi diantara membran, akan terbentuk redoks potensial sehingga dapat menimbulkan tranpor ion atau molekul tertentu.
Perpindahan molekul atau ion tertentu ini dapat membuat gradien kembali seimbang. Permeabilitas yang rendah menggambarkan sebuah energi yang besar sebagai penghalang yang sulit ditembus.
Energi dari penghalang ini dapat dihitung dengan menggunakan Energi Gibbs yang terlibat pada membran. Untuk mengerti energi yang terlibat dalam perpindahan ion-ion atau molekul antara dua fase solvent, kita harus mempertimbangkan efek-efek sebagai berikut :
  1. polarisasi litrik dari medium
  2. produksi dari "cavity" pada medium untuk mengakomodasi ion atau molekul (solfobik, hidrofobik, atau neutral effect)
  3. perubahan struktur pelarut yang terlibat (dari struktur awal dan memproduksi struktur baru yang mirip dengan ion atau molekul yang akan di Transpor)
  4. Interaksi spesifik dari ion-ion dengan molekul pelarut, seperti ikatan hidrogen, donor akseptor, dan interaksi ion-dipol.
Energi Gibbs dari membran merupakan kontribusi energi dari seluruh interaksi yang terlibat di atas.

Tuesday, November 29, 2011

Transpor Elektron pada Fotosintesis

Transpor elektron merupakan proses yang terjadi di krista pada saat respirasi sel. Molekul NADH dan FADH2 yang dibentuk di glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan siklus krebs adalah molekul yang kaya akan energi karena mampu mentransfer 2 elektron ke molekul oksigen. Energi ini kemudian digunakan untuk menghasilkan ATP. Transpor elektron ini merupakan sumber utama molekul ATP pada organisme aerobik. Proses oksidasi NADH dan FADH2 harus melibatkan protein sebagai pembantu untuk menghasilkan ATP. Protein yang terlibat diantaranya FMN, UQ, Cyt dsb yang membuat ΔG bernilai negatif agar spontan.

Elektron pada proses ini dapat mengalir dikarenakan redoks potensial. redoks potensial pada NADH lebih negatif daripada protein-protein penerima seperti sitokrom dll. Oleh karena itu, elektron dapat mengalir. Elektron yang mengalir ini kehilangan energi yang kemudian digunakan untuk memproduksi ATP. Pada proses produksi ATP protein-protein pembantu harus memiliki ADP, konjugsi asam fosfat, dan H+.

Multitalent


Sejak dahulu pun kita sudah ada orang yang multitalent..
Simak cerita berikut…..!!!!!!!!!!!!!!!
Pada suatu ketika ada sebuah lowongan menjadi imam masjid yang syaratnya luar biasa banyak diantaranya adalah
1.      Suaranya harus merdu dalam melafadzkan ayat suci dan fasih.
2.      Pintar pengetahuannya (ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya)
3.      Harus bisa berenang
4.      Harus bisa berkuda
5.      Harus bisa memanah
Bayangkan untuk menjadi imam masjid saja, syaratnya boleh dibilang agak aneh…
Tetapi, tidak mungkin lowongan itu dipajang, jika tidak ada orang yang memiliki kemampuan seperti itu. Jadi kesimpulannya sejak dahulu orang-orang pun banyak yang memiliki kemampuan yang istimewa..
Pesannya:
Kita pun harus demikian, kita harus memiliki kemampuan yang istimewa (multitalent). Jangan hanya puas dengan kemampuan apa yang kita miliki seperti akademis saja atau organisasi saja, atau ilmu agama saja. Kita harus berupaya untuk berkemampuan banyak (akademis oke, organisasi oke, ilmu agama jalan). ayooo semangaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!



Friday, October 28, 2011

Energi Surya


Energi listrik merupakan hal yang paling menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini dikarenakan krisis energi yang dialami oleh seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia harus memenuhi seluruh kebutuhan energi listrik nasional. Di Jawa-Bali saja diperlukan sekitar 17.500 MegaWatt, yang sampai saat ini mayoritas masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber utama kebutuhan energi. Dalam untuk memenuhi kebutuhan energi nasional Indonesia terganggu dengan tidak stabilnya harga di pasaran, belum lagi pemakaian energi yang kurang bijak (pemborosan energi). Saat ini banyak negara di dunia yang sudah mulai sadar dan khawatir akan krisis energi yang mengerikan ini. Sehingga tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali dua hal utama yaitu gerakan penghematan energi dan program penemuan sumber energi baru. Dua program besar inilah saat ini menjadi perhatian besar bagi beberapa negara maju dan negara berkembang. Dalam rangka mencari energi baru banyak sekali pilihan di antaranya mikrohidro, geotermal, nuklir, angin dan lain sebagainya. Salah satu pilihan energi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan energi yaitu energi matahari/surya. Energi surya seperti yang kita tahu selama ini banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya untuk mengeringkan pakaian, kalkulator cahaya matahari ,produsen vitamin D hingga sumber energi pada peristiwa fotosintesis tumbuhan. Sejak ditemukan efek fotolistrik, yang dapat mengeluarkan elektron ketika disinari foton, Energi surya dimanfaatkan sebagai sumber bagi Sel Surya/photovoltaic. Sel surya merupakan bahan/komponen yang dapat menghantarkan arus listrik dengan memanfaatkan energi surya lewat fenomena fotolistrik. Jadi, pada prinsipnya energi surya bersama dengan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sel sulya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik.      
Energi surya merupakan salah satu energi alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan litrik. Sel surya diperlukan agar dapat memanfaatkan energi matahari untuk kemudian diubah menjadi energi listrik. Dalam proses pengubahan energi surya menjadi energi listrik diperlukan rangkaian penunjang lainnya. Bahan penyusun sel surya biasanya terbuat dari bahan semikonduktor. silikon merupakan pionir dari material sel surya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ditemukan lagi bahan penyusun sel surya diantaranya Galium Arsenida (GaAs), Kadmium Telurida (CdTe), Tembaga Indium Selenida (CuInSe2), Tembaga Galium Telurida (CuInTe2) dan lain sebagainya. Dalam pembuatan sel surya, dibutuhkan substrat dasar (biasanya kaca) yang dilapisi oleh film tipis. Salah satu cara untuk membuat film tipis pada substrat dasar yaitu dengan diuapkan. Pada proses pembuatan film tipis dengan cara diuapkan terdapat tiga jenis metode yaitu evaporasi termal, co-evaporasi, dan flash evaporasi. Proses evaporasi ini membutuhkan ruangan yang vakum untuk mencegah uap hasil penguapan berinteraksi dengan gas-gas lain yang ada di ruangan dengan tekanan kira-kira 10-7 Torr. Evaporasi termal menggunakan satu bahan semikonduktor yang diuapkan menuju substrat misalnya silikon. Pada Co-evaporasi menggunakan lebih dari satu bahan semikonduktor yang diuapkan menuju substrat contohnya Selenium, Indium, Tembaga atau yang lainya. Pada flash evaporasi bahan semikonduktor yang digunakan ditempatkan pada tabung vibrator, tabung vibrator tersebut kemudian diputar sehingga molekul-molekulnya naik lalu dialirkan melalui selang ke pemanas untuk diuapkan satu-persatu. Umumnya flash evaporasi merupakan metode yang paling baik untuk membuat film tipis. Pembuatan sel surya juga proses penguapan dilakukan untuk semikonduktor tipe-N dan tipe-P. Kemudian hasilnya diharapkan seperti yang ada pada gambar dibawah ini.     


Pada proses pembuatan kita juga mungkin dihadapkan pada berbagai kendala misalnya hasil yang diinginkan adalah CuInTe2, tetapi hasil yang diperoleh mungkin Cu0,8In0,2Te1,3. Hasil Cu0,8In0,2Te1,3 yang diperoleh tersebut diketahui setelah bahan yang sudah dievaporasi sebelumnya dikarakterisasi misalnya dengan XRD (X-Ray Diffraction). Secara sederhana sel surya terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika dikenai sinar matahari maka akan terjadi aliran elektron.
Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber (penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh terhadap efisiensi dari sel surya. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis gelombang elektromagnetik. Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin energi surya.  lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan bahan solar sel (absorber), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja. dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan utk mengeluarkan elektron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik. Untuk membebaskan elektron dari ikatan kovalennya, energi foton harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada solar sel untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang dipergunakan.
Tentu saja agar efisiensi dari sel surya bisa tinggi maka foton yang berasal dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian memperkecil refleksi dan memperbesar konduktivitas dari bahannya. Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam tersebut.
Energi surya dapat dimanfaatkan untuk menangani krisis energi di Indonesia. Sejauh ini sel surya terus menerus dikembangkan efisiensinya agar dapat menampung energi cukup untuk memenuhi kebutuhan energi listrik.  

DAFTAR PUSTAKA

  1. Harsono, A., Kuliah Energi Surya Semester V, FMIPA UI, Depok, 12 September – 14 Oktober 2011.
  2. Widodo, Rusminto T. Prinsip solar cell, (http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/1855417-prinsif-kerja-solar-cell/#ixzz1brTEQ4SW, diakses 26 Oktober 2011).
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_cell, diakses 26 Oktober 2011.
  4.  http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-global/Energi-Bersih/Energi_matahari/, diakses 26 Oktober 2011.

Radioterapi menggunakan CO-60


Kanker adalah suatu penyakit yang ditimbulkan oleh sel tunggal yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat menjadi ganas yang dapat menghancurkan dan merusak sel atau jaringan sehat. Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak orang. Kanker, karena kemunculannya, dapat merusak sel atau organ penting lain. Oleh karena itu perlu dideteksi dan dihancurkan aktivitas atau pertumbuhannya sebelum berdampak lebih buruk lagi. Jika seseorang terdiagnosa terjangkit kanker, sel kanker tersebut perlu dihancurkan sebelum kanker tersebut menyebar dan merusak sel atau organ lain. Salah satu caranya ialah dengan menggunakan radiasi. Penggunaan radiasi untuk menghancurkan sel kanker biasa disebut sebagai radioterapi. Radioterapi menggunakan energi yang bersumber dari bahan radioaktif. Perlakuan radiasi ini dapat menghancurkan material genetik sel sehingga sel rusak, tidak dapat membelah dan tumbuh lagi. Tidak hanya sel kanker yang hancur oleh radiasi ini, sel normal pun akan rusak jika terkena radiasi. Dalam penggunaan radiasi, perlu adanya perlakuan dimana sel kanker yang harus dihancurkan tanpa merusak sel-sel sehat disekitarnya. Untuk itu perlu dosis yang setepat mungkin dalam radioterapi sehingga sel-sel yang sehat tidak terkena radiasi atau walaupun terkena jumlahnya sangat sedikit sekali. Oleh karena itu, dalam radioterapi, proteksi radiasi mutlak diperlukan.
Sudah disebutkan bahwa kanker dapat ditangani dengan terapi radiasi,  Salah satunya dengan menggunakan sinar gamma Cobalt-60. Radioterapi CO-60 merupakan pesawat telelerapi yang memancarkan sinar gamma secara terus menerus sehingga baik digunakan untuk keperluan pengobatan penyakit kanker. Sumber (head source) CO-60 berada pada gantry yang dapat diatur penyudutannya dari 00 – 3600. CO-60 ditempatkan dalam kontainer metal yang tebal pada alat, yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga sel kanker dapat diradiasi dari berbagai arah yang ditujukan setepat mungkin dan dengan paparan yang setepat mungkin. Pesawat ini dilengkapi dengan lampu kolimator dan fiber optic yang berfungsi untuk mendapatkan titik sentral dari luas lapangan penyinaran, mengatur jarak sumber ke obyek dengan mengubah ketinggian meja. Untuk menghindari rusaknya sel-sel yang sehat, prinsip-prinsip proteksi radiasi harus dijalankan dengan baik. Proteksi radiasi terdiri atas tiga prinsip yang harus dijalankan. Pertama, Radiasi digunakan jika memang benar-benar dibutuhkan. Dalam pengobatan kanker, radiasi memang benar-benar dibutuhkan. Kedua, ALARA (as low as reasonably achieveble). Dalam radioterapi pengobatan kanker, prinsip ALARA ialah dosis yang dibutuhkan harus setepat mungkin karena jika tidak sel-sel yang sehat juga akan rusak. Kemudian prinsip yang terakhir ialah pembatasan dosis. Radioterapi dengan menggunakan CO-60, radiasinya diarahkan atau merupakan radiasi eksternal. Radioterapi CO-60 memancarkan sinar gamma yang dapat mengionisasi dan merusak sel. CO-60 memancarkan 2 jenis sinar yang berenergi tinggi, yakni sinar beta dan gamma. Setelah memancarkan sinar beta, CO-60 kemudian memancarkan sinar gamma. Sinar gammalah yang dimanfaatkan untuk terapi radiasi karena lebih memiliki daya tembus yang lebih besar dan daya rusak yang besar pula terhadap sel kanker. Berikut skema pemancaran sinar gamma pada CO-60.

Teknik- teknik yang harus dijalankan terhadap radiasi gamma, hasil CO-60, sesuai dengan prinsip proteksi radiasi diantaranya meminimalkan waktu penyinaran, memaksimalkan jarak dari sumber radiasi, dan melindungi sumber radiasi. Walaupun beberapa efek biologis radiasi tergantung pada nilai dosisnya, untuk maksud pengontrolan dapatlah diasumsikan bahwa

Nilai dosis × waktu penyinaran = dosis total

     Dengan demikian, jika pekerjaan harus dilakukan pada medan radiasi yang relatif tinggi, dalam hal ini radioterapi CO-60, pembatasan waktu penyinaran harus dibuat sedemikian rupa sehingga produk nilai dosis dan waktu penyinaran tidak melebihi dosis total maksimum yang diperbolehkan radioterapi tersebut dikerjakan sesuai dengan prinsip keselamatan radiasi. Misalnya, Selama jangka waktu beberapa minggu, setiap harinya harus dikenai radiasi seberapa besar sehingga pasien tersebut menerima radiasi secara tepat agar sel-sel sehat disekitar sel kanker hanya menerima sedikit paparan radiasi. Kemudian proteksi yang dijalankan adalah mengatur jarak dari sumber radiasi. Secara intuitif, jelas bahwa penyinaran radiasi menurun dengan bertambahnya jarak. Jika diubah ke dalam istilah kuantitatif, kenyataan ini menjadi sarana yang dapat dimanfaatkan untuk keselamatan radiasi. Pada radioterapi dengan CO-60 jarak juga diatur sedekemikian rupa sehingga radioterapi menjadi optimal. Berikut ialah skema penyusunan radiasi.


Dimana SSD merupakan jarak sumber/pesawat dengan permukaan fantom, a adalah sumber radiasi CO-60, d jarak fantom ke objek yang akan diradiasi dalam hal ini pasien.
Proteksi radiasi yang juga harus dijalankan ialah perlindungan atau penghalang. Pada prinsip ini, sebelum radiasi gamma sampai menuju ke objek yang akan diradiasi perlu adanya pelindung yang dapat melemahkan atau mengurangi radiasi gamma tersebut. Pada kondisi-kondisi geometri yang baik, pelemahan sinar gamma sesuai dengan rumus


Kendatipun demikian, pada kondisi-kondisi yang tidak baik berkas sinar gamma dapat menyebar kemana saja. Yang terpenting ialah prinsip ini harus dijalankan agar dapat mengurangi risiko radiasi yang lebih buruk. Untuk mengurangi intensitas radiasi beberapa jenis penghalang. Yang pertama HVL (Half Value Layer) yang dapat mengurangi intensitas radiasi menjadi setengahnya, kedua TVL (Tenth Value Layer) yang dapat mengurangi intensitas yang datang menjadi sepersepulunya. Kemudiaan Mean Value Layer dapat mengurangi intensitas menjadi kira-kira 38% intensitas awal. Sebagai gambaran , pada kondisi geometri yang baik, untuk meneruskan 10% radiasi gamma yang membahayakan, pelindung beton setebal sekitar 7 inchi diperlukan.
Pada dasarnya radioterapi dengan menggunakan CO-60 dimaksudkan untuk mengobati kanker, akan tetapi seperti yang kita tahu bahwa radiasi juga dapat merusak sel lain yang sehat. Untuk itu dalam penggunaannya perlu ada pengawasan yang ketat. Banyak sekali badan-badan yang mengatur tentang radiasi seperti IAEA, ICRP dan lain sebagainya yang kesemuanya menekankan bahwa prinsip-prinsip proteksi radiasi harus dijalankan dengan baik. Tujuannya tidak lain ialah pemanfaatan radiasi benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, mencegah penerimaan paparan radiasi yang berlebihan sehingga dapat mengurangi efek-efek somatik yang berbahaya. Dengan menggunakan prinsip proteksi radiasi ini, Radioterapi dengan CO-60, zat radioisotop CO-60 ditempatkan dalam kontainer metal yang tebal pada alat, yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga sel kanker dapat diradiasi dari berbagai arah yang ditujukan setepat mungkin dan dengan paparan yang setepat mungkin. Kemudian sumber radiasi gamma dari CO-60 juga ditempatkan pada jarak tertentu sehingga pasien dikenai radiasi yang optimum atau pas secara paparan radiasi. Radioterapi CO-60 juga dilakukan secara berkala, setiap hari, secara tepat sehingga dosis total yang diterima pasien tidak melebihi dosis maksimum.

Referensi

  1. Cember, Herman. 1983. Introduction to Health Physics, diterjemahkan oleh Achmad Toekiman. Semarang: IKIP Semarang Press.
  2. Podgorsak, E. B. 2005. Radiation Oncology Physics: A Hanbook for Teachers and Students. IAEA: Austria
  3. Atmayati, Supi dan Arif Jauhari. 2007. Prinsip kerja pesawat terapi cobalt-60 (http://puskaradim.blogspot.com/2007/12/prinsip-kerja-pesawat-terapi-cobalt-60.html diakses 27 oktober 2011).
  4. Sumasatro, wasono dan mulyadi rachmad. 2007. Pengukuran Output Radioterapi. (http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/07_PengukuranOutputRadiasitRadioterapi.pdf/07_PengukuranOutputRadiasitRadioterapi.html diakses 28 oktober 2011).
  5. Rumhadi, Eddy. Proteksi Radiasi. (http://www.posradiografer,com/index.php diakses 28 oktober 2011).

Monday, September 19, 2011

Percobaan Tetes Minyak Milikan


Milikan mencoba menentukkan muatan elektron menggunakan percobaan tetes minyak. Skemanya ditunjukkan dibawah ini.
Plat metal B dan C dipisahkan sejauh 1 cm. Sebuah Atomiser A menyemprotkan minyak ke dalam ruang melalui bagian atas plat. Kemudian sinar-X E dilewatkan di antara plat horizontal. Sinar-X tersebut menyebabkan molukul-molekul udara terionisasi sehingga tetes minyak menjadi bermuatan negatif. Plat kemudian diberi muatan sehingga timbul beda potensial. Pada saat plat yang atas positif dan yang bawah negatif, disana tetes minyak dikenai gaya ke atas.
Pada saat tetes minyak dalam keadaan seimbang (gaya listrik sebanding dengan gaya gravitasi) berlaku
dimana :
q = jumlah muatan negatif pada tetes minyak
V = beda potensial kedua plat
d = jarak pisah antar plat
m = massa tetes minyak
g = percepatan gravitasi

Pengamatan kemudian dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa muatan yang tercatat selalu merupakan kelipatan dari 1,602 × 10-19 coulomb. Milikan kemudian mengatakan bahwa 1,602 × 10-19 C merupakan muatan sebuah elektron.